Kasih Sayang Seorang Ibu Tanpa Batas Dan Tanpa Syarat

Posted by Ivan Pradana On 00.45



Alkisah, ada sepasang kekasih yang hidup saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya raya dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tersebut. Sebagai orang yang terpandang di kota tersebut, latar belakang wanita tersebut akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat patuh pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orangtuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga menjadi stress karena gagal membujuk anak satu-satunya agar berpisah dengan wanita tersebut yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang orangtua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar dan orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu, dalam hati kecilnya ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

Detik .. Menit …. Jam …. Hari …. Minggu ………Tahun …… Tak terasa Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.

Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari obat-obatan herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya, ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu.

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.







Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius. Ternyata, bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan tersebut. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tersebut.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab. “Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berklai-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tersebut heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”

“Tidak Bu, saya yang bersalah”

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang orangtua sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan. Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama-sama dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sedu “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu-satunyanya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga……….

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tersebut, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut, menangis “Ibu benar-benar tidak menginginkan saya lagi.”

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tersebut. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut anaknya dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya. Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tersebut. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tersebut untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling-guling jatuh ke bawah.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana-mana, tetapi hasilnya nihil. Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tersebut terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit. Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu.

Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”. Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tersebut saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi. Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.

=========================

Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama :

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya.. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang-orang disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ………..

Tidak diragukan lagi “Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini”. Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ?

Ada 2 tindakan yang dapat Anda lakukan :

1. Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah ia untuk keluar makan atau jalan-jalan MALAM INI JUGA. Jangan ditunda2. Bila Ibu Anda tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda, telponlah dia malam ini juga, just to say “hello”. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan, dan bahagiakanlah dia semampu Anda. Hidangkan makanan favoritnya, dan seterusnya.

2. Kirimkan kisah ini kepada saudara/i Anda, teman2 Anda, maupun rekan-rekan kerja Anda. Bagi sebagian dari mereka, kisah ini mungkin akan seperti setetes embun yang menyegarkan jiwa mereka, yang terkadang terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Anda sungguh berjasa dalam hal ini?

Semoga Semua Ibu Di Dunia Berbahagia Selalu. _/I\_

Di Kutip Dari Artikel “Shi Sang Chi You Mama Hau”


 

Kebijaksanaan

Posted by Ivan Pradana On 01.25

Yakobus 1:5
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.

Seorang pemburu pergi ke hutan membawa busur dan tombak. Di balik pohon dia menunggu sasarannya sambil berkhayal pulang membawa seekor rusa. Tak lama menunggu, seekor kelelawar besar yang kesiangan hinggap di pohon di depan si pemburu, namun ia mengabaikannya. Tidak lama, seekor babi lewat dan berhenti di sampingnya. Pemburu itu menggerutu berharap babi itu segera pergi.

Setelah agak lama pemburu menunggu, tiba-tiba terdengar langkah kaki binatang. Ia mulai siaga, tapi ternyata... hanya seekor kijang. Iapun membiarkannya lewat. Baru setelah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tapi sang pemburu sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, "Rusa!" sehingga rusapun kaget dan lari sebelum ia menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh yang diinginkannya. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu berharga. Tidak jarang orang-orang seperti itu akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa logika yang sehat. Tapi ingatlah bahwa Tuhan mengajarkan kita setia pada perkara-perkara kecil lebih dulu sebelum dipercayakan perkara yang besar. Dengan penuh hikmat, marilah kita belajar berpikir bijak sebelum mengambil keputusan.

Orang bijak dapat melihat sesuatu yang berharga dalam setiap kesempatan yang ada. 

Renungan Kristen Saat Mulai Sibuk (SMS)

Posted by Ivan Pradana On 01.24

Hei guys, ketahuilah, bahwa Iblis tidak pernah berhenti berusaha untuk membuat iman kita gugur (Luk 22:31-32) dan memisahkan kita dari kasih Allah (Rom 8:38-39). Ia akan lakukan berbagai cara, agar rencana liciknya itu boleh berjalan dengan baik. Dan, cara yang hampir selalu berhasil adalah dengan cara membuat kita sibuk, hingga kita tidak lagi memiliki waktu untuk Tuhan. Iya, Iblis akan berusaha membuat waktu kita TERSITA HABIS dengan berbagai kesibukan, hingga kita tidak lagi memiliki waktu untuk berdoa, membaca Alkitab, beribadah, melayani Dia dan yang serupa dengan itu. Tentu saja, Iblis akan membuat semua kesibukan itu begitu masuk akal, agar kita tidak merasa terlalu bersalah, saat kita ‘terpaksa’ harus mengorbankan waktu-waktu yang semestinya kita sediakan bagi Tuhan. Awalnya, hanya sedikit waktu yang akan tersita, supaya kita tidak terlalu merasa bersalah.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Iblis pun semakin meningkatkan kesibukan kita, agar makin banyak lagi waktu-waktu kita yang tersita. Dan, tanpa kita sadari, seiring dengan makin banyak waktu kita bagi Tuhan yang tersita, maka iman kita pun mulai merosot dan kita pun makin menjauh dari Dia. Jika hal itu sampai terjadi di dalam hidup kita, sesungguhnya Iblis telah makin dekat dengan rencana liciknya. Karena itu, waspadalah, saat kita mulai begitu sibuk, hingga waktu kita untuk Tuhan mulai tersita. Kita mungkin telah ada di depan dari perangkap dan rencana licik si Iblis, untuk membuat iman kita gugur dan memisahkan kita dari kasih Allah. Jika itu yang terjadi, segeralah bertobat, sebelum segala sesuatunya terlambat. Akhirnya, ingat, sesibuk apapun urusan kita, janganlah pernah terbersit untuk mengorbankan waktu-waktu kita untuk Tuhan. Aturlah waktu kita dengan sebaik mungkin. Happy Monday, GBU all & tetap semangattthhh.

Kesaksian Kristen Terlepas dari Norkoba

Posted by Ivan Pradana On 02.44



Berikut ini postingan tentang kesaksian Kristen tentang Kevin Kubik terlepas dari narkoba, berkat Tuhan Yesus.  
Dunia Kevin Kubik serasa runtuh hancur berkeping-keping saat suatu hari di depan mata Kevin Kubik, ia melihat ayahnya ditangkap polisi dengan tangan terborgol. Semenjak hari itu ia tidak pernah melihat ayahnya lagi dan tidak pernah tahu kejahatan apa yang telah dilakukan ayahnya.

“Saat saya melihat ayah saya dibawa pergi seperti itu, yang ada di dalam diri saya adalah rasa marah yang amat sangat. Dan tentu saja karena saya masih kecil saya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dan saya benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Dan perasaan marah itu mulai bertumbuh di dalam hati saya,” ujar Kevin mengawali kisahnya.

Secara emosional, pribadi Kevin hancur dan ia mulai melampiaskan kemarahan itu pada setiap barang yang ada di hadapannya. Kevin mulai memukul dan menghancurkan barang-barang, merobek perkakas dengan pisau, merusak mobil dan apa saja karena besarnya rasa marah yang tersimpan di dalam dirinya. Dalam waktu tidak terlalu lama, Kevin menemukan cara lain yang jauh lebih mengerikan untuk melampiaskan rasa frustrasinya, memotong bagian tubunya sendiri dengan pisau.



“Sejujurnya saya tidak tahu kenapa saya mulai melukai tubuh saya sendiri. Saya pikir mungkin dengan cara itu saya bisa mendapatkan sedikit perhatian karena saya kehilangan perhatian dari seorang ayah dan saya tidak memiliki figur seorang ayah,” ujarnya dengan pedih.

Tidak hanya melukai dirinya sendiri, Kevin juga mulai minum alkohol dan memakai obat-obatan. Kevin mulai menikmati semuanya itu karena melalui hal itulah semua rasa sakit akibat ketidakhadiran ayahnya mulai menghilang dan Kevin tidak lagi merasakan luka, marah maupun rasa sakit untuk sesaat.

Awalnya Kevin hanya menggunakan mariyuana namun seiring dengan pertambahan usianya, ia mulai memakai semua obat-obatan yang bisa ia dapatkan dan hidup dengan alkohol maupun asap yang memabukkan. Ketergantungan ini semakin parah ketika Kevin mulai kecanduan obat-obatan dokter. Kevin menipu, mencuri, dan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan segala obat.

Ketidakstabilan emosi Kevin dan ketergantungannya akan obat yang semakin parah memaksanya untuk melakukan hal-hal yang ekstrim. ‘Ide brilian’ yang melintas di kepalanya membuat Kevin mengambil mesin pemotong dan memotong salah satu jarinya. Jari telunjuk tangan kirinya menjadi korban pertama kegilaan Kevin.

“Saya pergi ke dokter dan langsung masuk ICU. Tentu saja mereka mengoperasi tangan saya dan hal itu membuat saya diberikan obat-obatan penahan rasa sakit yang saya dambakan,” ujarnya.

Kevin tidak berhenti sampai di situ. Selama bertahun-tahun, beragam pemotongan dilakukan olehnya. Kevin mengambil pisau listrik dan memotong tendon kakinya. Dan ketika luka itu sembuh, ia memotongnya lagi. Kevin juga memotong bagian belakang lutut kanannya, memotong otot-otot di tangan kirinya, dan memotong buku jari tangan tengahnya. Kevin juga menghancurkan jempol kakinya sedemikian rupa sampai harus diamputasi. Semuanya itu dilakukan oleh Kevin hanya untuk mendapatkan resep obat-obatan dokter dalam jumlah yang besar.

“Secara fisik saya kecanduan obat dokter. Jika saya tidak meminumnya, saya akan merasakan sakit, pusing, mual, berkeringat, dan ngilu di seluruh tubuh saya. Cara termudah untuk mengatasi hal itu adalah dengan tetap memakai semua obat-obatan itu. Karena semakin banyak saya memakainya, semakin sedikit rasa sakit itu,” kisah Kevin akan masa lalunya yang kelam.

Kevin pun kemudian bertemu Luane. Ia menjauhkan diri dari semua kecanduannya hingga mereka menikah. Tapi semua itu tidak bertahan lama sampai Luane menangkap basah apa yang Kevin lakukan.

“Sedikit demi sedikit Luane mulai menyadari akan kebiasaan saya melukai diri sendiri dan juga akan kecanduan saya. Pada mulanya saya berusaha keras untuk menyembunyikannya, namun bagaimana Anda dapat menyembunyikan luka-luka maupun ketika Anda jatuh di sana-sini dan terkapar di lantai?” ungkap Kevin.

Hidup Kevin semakin gelap. Ia mulai mendengar suara-suara seram di dalam rumah, bayangan menyeramkan yang dipercayanya sebagai kuasa kegelapan, dan temperamennya menjadi semakin brutal bahkan melampaui batas ketika dalam ketidaksadaran akibat obat-obatan dan alkohol, Kevin menodongkan pisau kepada Luane dan mengancam akan membunuhnya. Luane lari dari rumah dan tidak pernah kembali.

“Sewaktu Luane pergi, saya benar-benar merasa kehilangan dan hancur. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar merasa sendirian. Hati saya tercabik, saya tidak tahu harus pergi kemana dan berpaling kepada siapa, saya kehilangan segalanya, tidak memiliki apa-apa lagi, sangat tidak sehat, tidak makan, dan yang saya lakukan hanyalah mabuk dan ‘ngobat’. Saya telah kehilangan hal-hal yang terpenting bagi saya. Itu adalah titik terendah dalam hidup saya,” ungkap Kevin dengan suara serak menahan tangis.

Sementara itu Luane mulai menghadiri kebaktian gereja bersama dengan teman-temannya. Tak lama setelah itu ia menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya. Saat Kevin berusaha mati-matian untuk berkomunikasi dengan istrinya, Kevin setuju untuk berdoa dengan Luane setiap malam di telepon. Lalu suatu malam sesuatu yang menakutkan terjadi.

Kesaksian Kristen, Kesaksian iman Kristen, Kesaksian Kristen terbaru, kesaksian rohani kristen, Kesaksian orang Kristen, Kesakasian terlepas dari narkoba

“Kami berbicara, kami berdoa dan menutup telepon. Ketika saya berbaring di situ, sepertinya ada yang mencengkeram pergelangan kaki saya. Hal itu begitu menakutkan saya. Jadi saya kembali menelepon Luane. Dan ketika kami berbicara di telepon, suara guntur menggelegar dan petir menyambar. Suasana malam itu bagaikan Tuhan yang sedang menghantam tinju-Nya dan berkata, ‘Anak-Ku akan datang dan menyelamatkan anak muda ini malam ini’. Jadi waktu kami berbicara di telepon saya berkata, ‘Luane, apa yang harus saya lakukan?’ dan dia bilang ‘Mintalah agar Yesus datang!’ Dan saya berkata, ‘Yesus, hidupku adalah milik-Mu. Lakukanlah apapun yang ingin Engkau lakukan’. Dan saat itu juga saya tertidur. Saya tertidur di atas Alkitab saya dan merasakan damai untuk pertama kalinya dalam hidup saya, paling tidak selama 31 tahun umur saya,” ungkap Kevin dengan isak tangis penuh haru ketika ia menceritakan titik balik dalam hidupnya.

Keesokan paginya, Kevin telah menjadi seorang pria yang baru.

“Pagi itu, 9 Maret 2003, Tuhan melalui anak-Nya Yesus Kristus memulihkan dan membebaskan saya dari 25 tahun kecanduan, gangguan mental, dari sakit penyakit dan pola makan yang kacau. Secara instan Tuhan mengambil semua itu dan tak pernah kembali lagi,” ujar Kevin akan mukjizat yang terjadi dalam hidupnya.

Ketergantungan Kevin akan obat-obatan kini digantikan dengan sebuah rasa lapar yang baru.

“Saya mulai ‘melahap’ Firman Tuhan. Saya tenggelam ke dalam Firman Tuhan dengan begitu dalam. IA menaruh rasa lapar dalam hidup saya akan Firman itu. Mulai dari saat saya membuka mata di pagi hari sampai saya menutup mata di malam hari, saya hanya ingin terus mencari siapa pribadi yang telah datang dan menyelamatkan saya,” ujar Kevin.

Luane melihat perubahan yang dramatis dalam hidup Kevin dan pulang ke rumah. Saat ini Kevin dan Luane melayani Tuhan bersama-sama. Mereka tertanam di gereja lokal dan memiliki banyak teman rohani. Kevin juga telah bebas dari obat-obatan dan alkohol, suatu hal yang tak pernah terbayangkan olehnya bahwa hal itu mungkin terjadi.

“Apapun yang pernah engkau lakukan, setiap pikiran yang akan engkau lakukan, bisa diampuni. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan yang tidak dapat diatasi oleh Yesus Kristus. Yang kita perlukan hanyalah merendahkan diri di hadapan-Nya dan meminta-Nya untuk megambil alih segala masalah itu,” ujar Kevin menutup kesaksiannya. (Kesaksian ini ditayangkan 21 Juli 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Kesaksian Kristen tentang Yunlung

Posted by Ivan Pradana On 02.43


Kesaksian Kristen tentang YunlungKesaksian ini adalah kisah nyata dari seorang bernama Yunlung. Simak kesaksiannya, yang luar biasa. Tuhan YesusMemberkati. 
Anak muda ini sejak kecil menyimpan kemarahan kepada sang ayah. Pria yang bernama Yunlung ini bercita-cita tinggi, namun ayahnya yang gemar berjudi membuatnya mengecap pahit dan getirnya kemiskinan.

“Waktu itu saya pernah diajak teman makan di suatu restoran di kota, tapi saya ngga diajak masuk untuk makan. Walaupun saat itu saya masih kecil, tapi saya merasa miskin itu ngga enak. Susah itu ngga enak. Saya berpikir suatu hari saya harus punya uang, jadi ngga akan ada kejadian yang seperti ini lagi.”
Kesaksian Kristen tentang Yunlung

Tekadnya untuk menghasilkan uang sendiri membuat Yunlung mengabaikan rasa malunya. Ia bersama beberapa orang temannya mencari barang-barang bekas seperti kardus, besi tua dan juga bekas botol minuman yang kemudian di jualnya kembali. Dengan uang hasil jerih payahnya ini ia bisa mendapatkan uang jajan yang tidak pernah diterimanya dari orangtuanya. Namun upayanya untuk mandiri ini sepertinya tidak dipandang sama sekali olah ayahnya. Sosok yang diharapkan dapat menjadi pengayom dan sumber bagi keluarganya tersebut malah sibuk berjudi, bahkan lama-lama ayahnya menjadikan rumah mereka sebagai tempat judi.

“Dia suka merasa menyesal, dia punya keluarga. Seolah-olah itu yang menghabiskan uang itu keluarga. Saat itu saya menyesal punya papa kaya gitu. Saya berpikir, suatu hari saya tidak boleh jadi seperti papa saya.”

Sewaktu Yunlung lulus dari SMA, ia meminta untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Namun ayahnya dengan enteng menyuruhnya kerja. Hal ini membuat Yunlung bertambah kecewa, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya dapat mewujudkan cita-citanya tanpa bantuan sang ayah. Berkat pertolongan seorang saudara Yunlung akhirnya berhasil merintis karir di luar negeri sekalipun harus melewati jalan yang berat. Namun uang yang mendadak melimpah membuat Yunlung lupa akan tujuannya semula. Setiap hari Yunlung yang ia lakukan hanya pesta pora. Tanpa disadarinya kebiasaannya berpesta pora telah menghancurkan karirnya, pekerjaannya yang semula menjanjikan kini terbengkalai karena ulahnya. Dengan penuh rasa malu, akhirnya Yunlung mengundurkan diri dan pulang ke Indonesia.

“Waktu itu perasaan saya kacau, pulang tidak bawa apa-apa dan saya jadi pengangguran. Akhirnya kembali ke teman-teman lama, mereka mulai ngajakin ke dunia malam lagi. Setiap malam kami mulai masuk dari satu diskotik ke diskotik yang lain.”

Untuk mengalihkan rasa frustasinya karena tidak memiliki pekerjaan, dia mulai terikat minuman keras dan juga narkoba. Awalnya Yunlung menikmati obat-obat bius itu, namun suatu saat ia mengalami overdosis. Di ambang maut itu, Yunlung meminta satu kesempatan lagi kepada Tuhan untuk bisa merubah hidupnya.

“Tuhan beri saya satu kesempatan lagi, tapi kalau seandainya saya harus mati hari ini, tolong buat saya segera mati.”

Tuhan mendengar permohonan Yunlung, ia selamat dari maut di hari itu. Seperti mendapatkan kehidupan baru, Yunlung semangat kembali untuk membangun masa depannya. Ia menjual semua harta miliknya, dan memulai sebuah usaha, namun sayangnya usahanya ialah menjual minuman keras.

“Saya ngga mikir apa minuman keras itu haram, apa minuman keras itu dosa, atau menjual minuman keras itu bisa mencelakakan orang. Saya tidak pernah memikirkannya sedikitpun.”

Ditengah kesuksesannya di bisnis haram tadi, Yunlung diajak seorang teman untuk menghadiri sebuah seminar. Namun ajakan itu berkali-kali di tolaknya. Hingga suatu hari saat ia mengunjungi beberapa night club yang menjadi konsumennya, ia melihat sesuatu yang mengusik hatinya.

Kesaksian Kristen tentang Yunlung

“Saya bertemu dengan seorang pelanggan saya. Dia dalam keadaan sangat mabuk, dan dikelilingi oleh beberapa orang laki-laki yang mencari-cari kesempatan. Saat itulah hati saya merasa sakit, saya merasa takut sekali. Ternyata produk saya malah mencelakakan orang lain.”

Rasa bersalah mulai mengganggu hati Yunlung, namun ia tidak melakukan apapun hingga suatu saat ia mengalami sebuah kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor.

“Kami pulang berdua naik motor, saya ngga tahu kalau tas teman saya di belakang di jambret. Karena tasnya ditarik, kami berdua jadi terpelanting dari motor.”

Kesaksian Kristen tentang Yunlung

Karena kejadian itu ke dua kaki Yunlung cedera dan membuatnya harus terbaring di tempat tidur selama dua minggu. Saat ia dalam keadaan tidak berdaya itulah hati nuraninya kembali mengusiknya. Ia kembali diingatkan akan ajakan temannya untuk mengikuti seminar tentang bisnis yang benar itu.

“Saya mulai berpikir tentang apa yang akan menjadi masa depan saya. Apakah saya benar-benar harus mengikuti seminar itu?”

Yunlung pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti seminar tersebut. Sesi demi sesi dijalaninya untuk menemukan jawaban akan sebuah usaha yang benar. Hingga sebuah perkataan dari pembicara dalam seminar itu menyentuh hatinya.

“Kita sebenarnya memiliki lima harta: harta rohani, harta jasmani, harta hubungan, harta keluarga, baru harta benda. Kalau dulu saya berpikir: harta benda, harta benda di awal, baru sisanya di belakang. Tapi ternyata terbalik. Dari situ saya mulai sadar, untuk apa saya kejar harta benda kalau harus mengorbankan empat harta yang sebelumnya.”

Kesaksian Kristen tentang Yunlung
Sesi demi sesi mengubah kehidupan Yunlung, dalam seminar itu ia mengalami jamahan Tuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Saya merasakan Tuhan itu masih ingat saya, masih sayang saya. Kalau selama ini saya hidup di dunia realitas, kasih yang menuntut, yang mengharapkan imbalan, ternyata setelah di doakan, saya tidak merasakan lagi. Saya merasakan kasih yang murni dari seorang bapak. Apa yang saya pikirkan, kepahitan saya kepada orangtua, itu seperti hilang. Saya merasa lega sekali.”

Sebuah keputusan untuk mengijinkan Tuhan untuk menguasai hidupnya, telah mengubah seluruh kehidupan Yunlung. Hubungannya dengan kedua orangtuanya kini telah pulih, dan pemahamannya akan arti kesuksesan yang sejati membawanya menjadi pengusaha pertanian dan juga menjadi guru sukarelawan di sebuah pedesaan di Jawa Barat.

“Kalau dulu saya berpikir bahwa sukses itu : saya memiliki posisi yang bagus, usaha yang bagus, uang yang banyak dan mendapatkan penghargaan. Tapi saat ini, saya berpikir sukses itu adalah: kalau kita benar-benar mau mengikuti apa yang menjadi kehendaknya Tuhan. Kalau kita hidup dengan cara yang benar, sikap yang benar dan tujuan yang benar dimata Tuhan, itu baru kesuksesan yang sejati,” demikian papar Yunlung. (Kisah ini ditayangkan 3 November 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).
Demikian Kesaksian Kristen tentang seorang yang bernama Yunlung, semoga bermanfaat, Tuhan Yesus Memberkati, Syallom, Halleluyah.

Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini : 

Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!

Kesaksian Kristen tentang Resdi

Posted by Ivan Pradana On 02.42


Kesaksian Kristen tentang Resdi

Kesaksian Kristen tentang Resdi


Saya akan memposting Kesaksian Kristen tentang Resdi. Kesaksian ini diambil dari Jawaban.com.
Resdi seorang gadis yang sangat membenci bapaknya. Kebenciannya ini akhirnya membuat Resdi membenci semua pria. Hal ini bermula saat Resdi masih kecil, sekalipun ia tergolong anak yang baik namun bapaknya tidak memperhatikannya dan memperlakukannya dengan kasar.
Bapaknya memiliki kebiasaan setiap pagi harus ada kopi saat ia bangun. Tetapi pada hari itu, Resdi terlambat mebuatkan kopi untuk ayahnya. Dengan penuh amarah bapaknya mendorong Resdi hingga tangannya terkena api. Tangannya akhirnya mengalami luka bakar, berharap ibunya akan membantu, tetapi ternyata tidak. Ibunya malah ikut memarahinya. Resdi sedih sekali karena perlakuan orangtuanya itu. Setiap kali ia melihat luka itu, ia langsung ingat kekejaman bapaknya.

Ada satu kejadian lagi pada saat Resdi sudah menginjak usia remaja. Ia harus mengalami banyak penyiksaan secara fisik dari bapaknya. Hanya karena belum selesai masak pada saat bapaknya pulang dari ladang, ia langsung dipukuli dengan bambu sampai terkencing-kencing di celana dan seluruh tubuhnya memar-memar. Bapaknya sama sekali tidak peduli kesakitan yang dialami Resdi.
Siksaan demi siksaan yang ia alami membuat Resdi membulatkan keinginannya bila ia besar dan sukses nanti maka ia akan melupakan bapak dan ibunya.
Hingga suatu saat, Resdi mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik di Jakarta, ia menikmati kebebasannya. Satu tahun berhasil mandiri di ibu kota, terbersit dalam pikirannya untuk membalaskan dendamnya kepada orangtuanya dengan memanggil kakanya ke Jakarta. Kakaknya ini ia anggap sebagai anak kesayangan bapaknya. Jadi jika ia berhasil membuat kakaknya tersiksa, maka ia akan merasakan kepuasan.
Saat kakaknya tiba di Jakarta dan tinggal dengannya, Resdi menyuruh kakaknya untuk mengerjakan tugas-tugas rumahnya. Kakaknya sangat sedih dan akhirnya menangis karena perlakuan Resdi, namun hal ini malah membuat Resdi merasa senang karena sudah merasa membalaskan dendamnya pada orangtuanya dengan membuat kakaknya merasakan apa yang ia rasakan waktu kecil dulu.
Pada suatu hari Resdi diajak ke suatu kelas pemulihan oleh teman kantornya. Di kelas itu diajarkan tentang hati Bapa. Ia malah merasa bahwa ini tidak ada gunanya karena bapaknya saja sudah membuat masa depannya hancur dengan menanamkan kekejaman. Lalu akhirnya ada satu kalimat dari pembicara yang menegur hatinya, bahwa membenci saudara itu sama dengan pembunuh. Ia tidak mau menjadi seorang pembunuh. Saat itulah pembina Resdi mendoakannya, bahkan pembinanya meminta maaf kepada Resdi mewakili ayahnya.
"Yang saya dengar bukan suara pembina saya, tapi suara bapak saya. Saat itu saya dengar bapak saya menangis, sedih.. Hal itu membuat saya membuka hati dan memaadkan bapak saya."
Sejak Resdi bisa mengampuni bapaknya, ia bertekad untuk pulang kampung sehingga bisa meminta maaf langsung pada orangtuanya. Setelah 4 tahun tidak pulang, ia berharap akan disambut dengan penuh kerinduan oleh orangtuanya namun kenyataannya jauh dari yang ia harapkan. Ternyata orangtuanya lebih mengharapkan kakaknya yang pulang. Ia kecewa dan sedih, apalagi ibunya malah meminta uang hasil kerjanya.
Hingga di tahun 2006 Resdi menerima telepon dari ayahnya yang berkata bahwa mereka semua rindu. Ia diminta untuk pulang. Akhirnya ia pulang dan bertemu dengan keluarganya. Disaat itulah keluarganya akhirnya mengalami pemulihan. Mereka berkumpul dan saling meminta maaf atas semua kesalahan yang telah mereka buat dulu. Sekarang Resdi baru merasakan bagaimana kasih sayang seorang bapak. (Kisah ini ditayangkan 15 November 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Kesaksian KristenTentang Kuasa Nama Yesus

Posted by Ivan Pradana On 02.39

Kesaksian Tentang Kuasa Nama Yesus. Sihir, Ilmu Hitan, Ilmu kebatinan dikalahkan oleh Kuasa nama Yesus Kristus. Berikut iniKesaksian Kristen tentang seorang yang dilepaskan dari kuasa kegelapan.
Albert Christian memiliki mimpi besar, ia ingin menjadi orang yang berhikmat, memiliki karisma dan menjadi seorang pemimpin besar. Sedari kecil ayahnya meyakinkannya bahwa ia ditentukan untuk jadi pemimpin besar karena dirinya adalah titisan dari leluhurnya. 

Sejak kecil, Albert senang belajar bela diri. Ilmu beladiri yang dimilikinya membuat Albert disegani oleh teman-temannya, dan menjadi buah bibir di kampungnya.



“Saya memiliki indera ke enam, bisa merasakan hal-hal yang akan datang. Saya juga memiliki kesaktian penglihatan, contohnya teman saya punya uang berapa di kantongnya, saya bisa melihat seperti di tv, jumlahya sekian, saya bisa tebak dengan tepat.”

Beranjak dewasa, Albert memperdalam ilmu-ilmu yang dimilikinya. Ia mempelajari ilmu kebatinan, yaitu ilmu karisma atau ilmu kebatinan. Untuk mendapatkan ilmu itu, Albert harus menjalani puasa selama tiga hari atau yang disebutnya puasa pati geni.

Sejak mempelajari ilmu kebatinan itu, Albert mengalami sesuatu yang tidak biasa. Dia sering melihat sesosok orang yang bercahaya, namun ia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Setiap kali sosok itu muncul dalam mimpinya, Albert langsung terbangun. Tidak hanya itu, rohnya sering kali keluar dari tubuhnya. Ia bangun dari tidurnya, namun dirinya bisa melihat tubuhnya masih terbaring di tempat tidur.

Namun semua ilmu dan kekuatan yang dimilikinya tidak membuat Albert menjadi seorang pemimpin yang baik, malah menjadi pemimpin yang arogan. Ia sering memarahi bawahannya dengan sangat kasar, bahkan menantang mereka untuk berkelahi.

Karena kesombongan dan gengsinya yang tinggi, hampir setiap hari mengajak teman-temannya ke diskotik. Baginya adalah sebuah kebanggan dapat mentraktir teman-temannya untuk bersenang-senang.

Dibalik kewibawaannya, Albert menyembunyikan sebuah rahasia dengan rapi. Ilmu-ilmu yang dimilikinya membuat Albert menjadi seorang pecandu seks.

“Saya kemas sedemikian rupa, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu. Karena saya memegang gengsi. Menjaga yang namanya wibawa. Menjaga yang namanya nama baik, karena bagi saya hal itu adalah kehormatan.”

Tetapi kehidupan berkata lain, pekerjaan yang sebelumnya memberikan kemewahan, dan hormat dari teman-temannya, tiba-tiba harus ia rebut darinya. Albert mengalami PHK, dan ia pun menjalani hidup sebagai seorang pengangguran. Saat itulah ia mulai merenungkan kehidupannya.

“Saya kadang sekitar jam-jam setengah dua pagi itu terbangun, ‘Kalau saya mati bagaimana? Andaikan saya mati mau kemana? Ke sorga atau ke neraka? Selamat atau tidak?’”

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui Albert. Dia bertanya-tanya apakah ilmu-ilmu yang dimilikinya bisa membawanya kepada kehidupan kekal. Namun setelah ia merenungkan, orang sesakti apapun pada akhirnya akan mati.

“Apa bedanya orang yang berilmu dan tidak? Saya punya ilmu yang bikin saya punya kelebihan, tapi kalau ngga selamat buat apa?”

Dalam keadaannya yang galau itu, Albert di ingatkan pada apa yang ia lakukan di masa kecilnya. Dulu ia memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan dan merasakan damai sejahtera, tidak seperti sekarang ini. Di dalam hati Albert mulai muncul kerinduan untuk kembali bersekutu dengan Tuhan.

Albert akhirnya menemui seorang hamba Tuhan dan meminta tolong untuk di doakan. Namun untuk melepaskan semua ilmu yang ia miliki bukanlah sesuatu yang mudah. Ia merasakan kesakitan yang amat sangat.

“Menyakitkan dan sangat sulit, karena saya belajar ilmu itu banyak banget,” demikian Albert menceritakan apa yang ia rasakan saat doa pelepasan.
Tidak ada kekuatan di dunia ini yang terlalu kuat bagi Tuhan. Demikian juga dengan semua ilmu kebatinan yang mengikat Albert, kuasa Allah sanggup membebaskannya. Dalam nama Yesus Kristus, Albert dibebaskan dan dipulihkan dari keterikatan ilmu kebatinan dan juga seks.

“Seratus persen saya bebas. Saya merasakan kesegaran yang luar biasa dan hati saya merasakan kemerdekaan, seperti tidak ada beban. Luar biasa, saya merasa bangga bertemu dengan Tuhan Yesus. Semua ilmu yang pernah saya pelajari tidak bisa dibandingkan dengan Tuhan Yesus. Di dalam Dia saya menemukan damai sejahtera, sukacita, dan juga kepastian keselamatan.”(Kisah ini ditayangkan 11 November 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).